PAKPAK BHARAT –Nasionaldetik.net
Di saat sebagian orang menikmati hari Minggu bersama keluarga, Babinsa Koramil 07/Salak Kodim 0206/Dairi, Serda Julianto Manik, justru memilih duduk di sebuah warung sederhana milik Bapak Sola Manik di Desa Boangmanalu, Kecamatan Salak, Kabupaten Pakpak Bharat, Minggu (15/2/2026). Kehadirannya bukan tanpa alasan. Di balik obrolan santai yang mengalir, terselip tugas penting menjaga stabilitas dan kedekatan dengan warga desa binaannya melalui komunikasi sosial (komsos).
Sebagai aparat teritorial, Serda Julianto tetap melaksanakan monitoring wilayah meski di hari Minggu. Dengan metode pembinaan teritorial (binter) yang humanis, ia menyerap berbagai informasi, mulai dari kondisi keamanan lingkungan hingga persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Warung kopi pun menjadi ruang dialog yang efektif—tempat keluhan, harapan, dan cerita warga disampaikan tanpa sekat formalitas.
Sola Manik, pemilik warung sekaligus warga setempat, mengaku merasa dihargai atas kehadiran Babinsa di desanya. Menurutnya, kehadiran aparat TNI di tengah masyarakat bukan hanya memberi rasa aman, tetapi juga mempererat hubungan emosional. “Kami merasa diperhatikan. Walaupun hari libur, Pak Babinsa tetap menyempatkan diri datang dan mendengar kami,” ujarnya.
Secara terpisah, Danramil 07/Salak Kapten Inf A F Sagala menjelaskan bahwa kegiatan komsos merupakan bagian dari tugas rutin Babinsa dalam menjaga kondusivitas wilayah. Menurutnya, pendekatan persuasif dan dialogis menjadi kunci membangun kepercayaan masyarakat. “Babinsa harus hadir di tengah warga, kapan pun dibutuhkan. Melalui komunikasi sosial, berbagai potensi permasalahan dapat dideteksi dan dicegah sejak dini,” tegasnya.
Langkah sederhana yang dilakukan Serda Julianto Manik di warung desa itu menjadi gambaran nyata bahwa tugas teritorial bukan sekadar patroli, melainkan merawat hubungan. Di Desa Boangmanalu, kehadiran Babinsa pada hari libur bukan hanya soal pengawasan wilayah, tetapi juga tentang membangun rasa kebersamaan—bahwa negara selalu hadir, bahkan dalam secangkir kopi dan percakapan hangat di sudut desa.
Sumber: Prajurit Pena
(Nur Kennan Tarigan)





































