LANGKAT |
Langit mendung dulu bukan sekadar tanda turunnya hujan bagi Pak Suzanna. Itu adalah pertanda kegelisahan.
Setiap awan gelap datang menggantung di atas Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, ia dan keluarganya langsung bersiap.
Ember-ember tua diletakkan di berbagai sudut rumah. Tikar digeser menjauh dari titik bocor. Anak-anaknya hanya bisa menunggu, berharap hujan tidak terlalu deras malam itu.
Namun harapan sering kalah oleh kenyataan.
Air hujan menetes dari sela-sela atap rumbia yang lapuk. Tetes demi tetes jatuh tanpa henti, lalu membanjiri lantai tanah yang dingin dan lembap. Malam-malam panjang dilalui dalam kondisi setengah basah. Tidur tak pernah benar-benar lelap.
“Kalau hujan, kami tidak bisa tenang,” ucap Pak Suzanna pelan, mengenang masa-masa sulit itu.
Rumah kecil itu telah lama rapuh. Dindingnya mulai lapuk dimakan usia, rangka kayunya melemah, dan atapnya renggang seolah menunggu waktu untuk runtuh. Kebocoran bukan lagi kejadian sesekali—melainkan bagian dari kehidupan yang dijalani bertahun-tahun.
Tak ada pilihan. Tak ada kemampuan untuk memperbaiki. Yang ada hanya bertahan.
Hingga April 2026 menjadi titik balik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128 Kodim 0203/Langkat hadir di desanya. Rumah Pak Suzanna masuk dalam daftar rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Hari itu, suara palu mulai berdetak sejak pagi. Personel TNI, Polri, dan warga turun langsung. Seng tua dilepas satu per satu. Kayu lapuk dibongkar. Rangka baru disusun dengan penuh ketelitian.
Tak ada jarak antara aparat dan masyarakat. Semua bekerja berdampingan—mengangkat material, memaku rangka, hingga menyelesaikan bagian demi bagian rumah.
Gotong royong yang sempat terasa jauh, kembali hidup di halaman rumah sederhana itu.
Atap lama akhirnya diganti.
Perlahan, rumah yang dulu bocor mulai berubah wujud. Dari gubuk rapuh menjadi hunian yang kokoh. Dari tempat penuh kecemasan menjadi rumah yang menghadirkan rasa aman.
Pasiter Kodim 0203/Langkat, Kapten Inf Supriadi, menegaskan bahwa program TMMD bukan sekadar pembangunan fisik.
“Rumah layak adalah kebutuhan dasar masyarakat. Kami ingin warga tinggal dengan aman dan nyaman. Sekarang Pak Suzanna sudah bisa menempati rumah barunya dengan tenang,” ujarnya.
Bagi Pak Suzanna, perubahan itu terasa sederhana namun sangat berarti. Ia tidak lagi memikirkan ember setiap kali langit menghitam.
“Sekarang sudah tidak takut lagi kalau hujan,” katanya sambil tersenyum, mata berkaca-kaca.
Kalimat itu terdengar singkat, tetapi menyimpan perjalanan panjang tentang bertahan dalam keterbatasan.
Program RTLH dalam TMMD memang membangun rumah, tetapi sesungguhnya yang dipulihkan adalah harapan. Rasa aman yang dulu hilang kini kembali hadir. Anak-anaknya bisa tidur tanpa khawatir basah. Istrinya tak lagi berjaga sepanjang malam menahan air hujan masuk ke rumah.
Di Desa Pasar Rawa, perubahan itu nyata terasa.
Dari bocor menjadi kokoh.
Dari cemas menjadi tenang.
Dari bertahan menjadi hidup dengan harapan baru.
Kisah rumah Pak Suzanna hanyalah satu dari banyak cerita yang lahir dari TMMD Ke-128. Program ini tidak sekadar mendirikan bangunan, tetapi memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat—menghadirkan negara hingga ke sudut kehidupan paling sederhana.
Kini, ketika hujan turun di Pasar Rawa, suara tetes air tidak lagi membawa ketakutan.
Bagi keluarga Pak Suzanna, hujan yang dulu menjadi ancaman… kini terasa seperti rahmat.
Dan di situlah pencapaian terbesar TMMD—bukan hanya membangun rumah, tetapi mengubah nasib, mengembalikan martabat, serta menyalakan kembali harapan hidup masyarakat. (red)





































