Rantauprapat —
Tidak pernah terlintas dalam pikiran Mahra Lazuardi Harahap (47) perjalanan hidupnya sebagai wartawan akan membawanya pada begitu banyak pengalaman.
Dari pertama kali bisa menaiki pesawat yang dibiayai negara, menjadi narasumber jurnalistik, membongkar dugaan persoalan dana KONI hingga menghadapi intimidasi yang nyaris membuat nyalinya ciut.
Namun, semua itu justru menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang wartawan yang memilih bertahan, bukan menyerah.
Mahra kini sedang mengikuti Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers untuk jenjang kelas Madya yang diselenggarakan di Hotel Emerald Garden Medan pada (8-9 Oktober 2026).
Puluhan tahun sudah ia bergelut dengan dunia jurnalistik, baginya, profesi wartawan disadarinya bukan jalan untuk mencari kemewahan.
“Untuk hidup bisa, tapi kalau untuk kaya, nggak bisa,” kenang Mahra, mengutip pesan yang dahulu pernah disampaikan kepadanya ketika pertama kali mengenal dunia jurnalistik.
Perjalanan itu bermula sekitar 2006. Saat itu, Mahra bergabung dengan salah satu media cetak mingguan.
Sebelum benar-benar menekuni dunia jurnalistik, ia sempat menjalani pendidikan perkuliahan.
Ia pernah kuliah di UISU kemudian melanjutkan pendidikan hingga akhirnya menyelesaikannya di Al-Hikmah.
Pertemuannya dengan seorang senior bernama Faisal Tempubolon, yang dikenalnya sebagai sosok dari lingkungan STIKP dan pernah bekerja di Harian Andalas, menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Dari sanalah ia mendapatkan dorongan sederhana namun sangat berarti.
“Jadi wartawan saja, bisa hidup, yang pwnting pandai menulis, pelajari rwgulasi,” demikian pesan yang masih diingatnya.
Pesan sederhana itu kemudian menjadi bekal Mahra mengarungi dunia pers.
Hari demi hari ia jalani. Menulis, mencari informasi, melakukan konfirmasi, bertemu banyak orang dan belajar memahami persoalan dari berbagai sudut.
Hingga suatu ketika, pengalaman yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan benar-benar terjadi.
Untuk pertama kalinya, Mahra menaiki pesawat.
Bukan untuk berlibur, bukan pula karena memiliki uang berlebih.
Ia mendapatkan kesempatan mengikuti perjalanan kunjungan kerja DPRD Labuhanbatu Selatan yang pembiayaannya berasal dari anggaran negara.
Bagi sebagian orang, naik pesawat mungkin merupakan hal biasa. Tetapi bagi Mahra, pengalaman itu meninggalkan kenangan tersendiri.
Dari seorang anak muda yang sebelumnya hanya mengenal dunia jurnalistik dari tulisan dan percakapan dengan senior, perlahan ia menemukan dirinya dalam perjalanan-perjalanan jurnalistik yang lebih luas.
Ia juga pernah dipercaya menjadi narasumber oleh Bawaslu Labuhanbatu dalam kegiatan yang berkaitan dengan jurnalistik menjelang Pilkada.
Tetapi perjalanan sebagai wartawan tidak selamanya menghadirkan pengalaman menyenangkan.
Ada masa ketika profesi yang dipilihnya justru membawa Mahra berhadapan dengan situasi yang menegangkan.
Saat bekerja di media Mitra Sahan, yang disebutnya sebagai bagian dari grup Jawa Pos, Mahra pernah mengangkat pemberitaan mengenai dugaan persoalan dana KONI senilai sekitar Rp1,2 miliar.
Pemberitaan tersebut, menurut penuturannya, membuat sejumlah pihak tidak senang.
Ia mengaku kemudian dipanggil dan dibawa oleh orang yang disebutnya sebagai pihak panitia. Dalam perjalanan itu, Mahra mengatakan dirinya mengalami intimidasi agar menghentikan pemberitaan.
Yang paling membekas dalam ingatannya adalah ketika sebilah kelewang disebut diletakkan di dekat lehernya sebagai bentuk tekanan.
Bagi seorang wartawan, ancaman semacam itu tentu bukan perkara kecil.
Tetapi Mahra memilih tetap bertahan.
Dalam kondisi tersebut, ia kemudian diamankan dan bersama almarhum Wakil Ketua DPRD Labuhanbatu, H Zainal Harahap, akhirnya sampai ke kantor Polsek Kota Pinang.
Peristiwa itu menjadi salah satu pengalaman paling menegangkan dalam perjalanan jurnalistiknya.
Namun, pengalaman tersebut tidak membuat Mahra meninggalkan dunia pers.
Justru dari sana ia semakin memahami bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal memegang pena, kamera atau alat perekam.
Ada keberanian yang harus dijaga. Ada aturan yang harus dipahami. Ada konfirmasi yang harus dilakukan.
Dan ada tanggung jawab untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Kini, setelah bertahun-tahun menjalani profesi tersebut, Mahra tidak banyak bicara soal popularitas.
Ia lebih banyak berbicara tentang perjalanan.
Tentang bagaimana seorang wartawan harus belajar dari waktu ke waktu.
Tentang bagaimana tulisan harus dibangun dengan keberanian, tetapi tetap berpijak pada aturan.
Tentang bagaimana sebuah profesi bisa menjadi jalan untuk menghidupi keluarga, meski bukan jalan untuk menjadi kaya.
Di kediamannya di kawasan Rantauprapat, Labuhanbatu, kenangan perjalanan panjang itu masih melekat.
Mahra pernah berada di berbagai wilayah di kawasan Labuhanbatu Raya, mulai Labuhanbatu Utara dengan ibu kota Aek Kanopan, Labuhanbatu dengan ibu kota Rantauprapat, hingga Labuhanbatu Selatan dengan ibu kota Kota Pinang.
Dari perjalanan itulah ia belajar satu hal: menjadi wartawan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa lama ia mampu bertahan menjalankan tanggung jawabnya.
Pesawat yang dahulu pertama kali dinaikinya mungkin hanya sebuah perjalanan singkat.
Namun, perjalanan panjang sebagai wartawan ternyata jauh lebih panjang dan penuh liku.
Ada kebanggaan, ada ketakutan, ada tekanan, ada keluarga yang harus diperjuangkan, dan ada idealisme yang tidak selalu mudah dipertahankan.
Mahra Lazuardi Harahap memilih tetap berjalan. Sebab baginya, menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan.
Itu adalah perjalanan hidup.(AVID)





































